PM Inggris dalam Tekanan

Investor trader banyak yang mempertanyakan efek “ Perang Dagang” terhadap pergerakan pasangan mata uang akhir  akhir ini. Beberapa trader mengatakan bahwa Perang Dagang Amerika China tidak mempunyai efek sebesar yang diperkirakan, terlihat dari pasar ekuitas kembali pulih baik di Asia maupun Amerika. Pendapat tersebut tidak salah, tetapi seperti kita ketahui bersama bahwa ancaman perang dagang , dapat saja MEREDA tetapi bukan berarti HILANG. Koreksinya pasar keuangan disinyalir karena Bank Sentral banyak mengambil sikap “ Wait and See” seperti pidato Mario Draghi (Gubernur Euro Central Bank) kemarin di Brussels. Dengan melihat sikap seperti ini maka para pelaku keuangan, yang menilai bahwa harga saham sudah terlalu jauh jatuh, maka dimanfaatkan sebagai peluang “ Buy” sesaat.

Sebenarnya para pelaku pasar sudah mengantisipasi pelemahan pasar ekuitas sejak Perang Dagang dimulai dan disaat perang dagang mereda mereka kembali masuk ke pasarwalaupun kita mengetahui bahwa ini merupakan aksi jangka pendek, karena ketidakpastian perdagangan global akan mempunyai efek dikemudian hari dan dapat dipastikan berjalan lama, artinya  perang dagang saat ini hanya mereda dan tentunya ini memberikan gambaran bahwa pertumbuhan ekonomi global masih dalam tekanan dan bergerak “ Turun “. Sambil menunggu ledakan berikutnya dari Perang Dagang Amerika – China, maka para pelaku pasar sedang terfokus kepada Negara “ Three Lion” Inggris.

Sejak inggris memutuskan untuk melakukan Brexit ( keluar dari uni eropa) melalui  referendum pada tanggal 29 Maret 2017, maka kisruh politik di negara ratu Elizabeth ini tidak pernah reda. Inti dari perseteruan yang terjadi, adalah Negoisasi Brexit, dimana aliran euro – skeptic menginginkan secepatnya Inggris keluar dari Uni Eropa, sedangkan Pemerintahan Theresa May yang didukung oleh pengusaha Inggris, berusaha mencari celah perundingan terutama masalah pabean / perdagangan bebas. Disisi lain Uni Eropa merasa keberatan dengan proposal Inggris yang memilih milih pasal pasal perdagangan bebas dan dirasa menguntungkan Inggris.

Ketakutan petinggi uni eropa ini , sangat logis karena dengan menerima usulan Inggris, maka akan terjadi gelombang keluarnya negara anggota uni eropa dikemudian hari.  Mundurnya menteri luar negri dan menteri Brexit didalam cabinet PM Theresa May membuat ketegangan politik di inggris semakin tinggi. Mundurnya menteri inggris ini, tidak lepas dari perubahan pandangan politik Mey terhadap Brexit yang mereka anggap sudah membahayakan esensi dari hasil referendum Brexit tahun 2017.

Jika dilihat dari data ekonomi Inggris dalam 1 bulan terakhir maka terlihat masih dalam koridor stabil bahkan cenderung membaik terutama factor inflasi Inggris yang terus naik. Keberadaan ini membuat gubernur Bank of England harus menaikan suku bunga di bulan depan. Konfirmasi atas kenaikan suku bunga inggris oleh BoE memang sudah tersirat pada rapat BoE terakhir dimana adanya kenaikan MPC official bank rate vote  dari 2-0-7 menjadi 3-0-6. Dengan melihat fenomena diatas, maka factor geopolitik seperti masalah Brexit serta perang dagang yang sedang berkecamuk , sampai saat ini memberikan dampak yang negative bagi mata uang poundsteling inggris.

Tekanan naik masih terlihat jelas pada channel up trend di time frame Daily, walaupun terlihat bahwa disaat channel tersebut di lewati maka target penurunan GBPUSD adalah 1.3160 – 1.3140 an dengan dinding atas channel up trend di 1.3340 an

gbpusd

FBS adalah broker internasional yang menyediakan layanan keuangan dan investasi berkualitas terbaik di seluruh dunia. Selain itu, merupakan broker ECN/STP, kami menyediakan kami berbagai layanan dan lingkungan perdagangan yang kompetitif. Tujuan kami adalah untuk mengembangkan dan menerapkan teknologi top-notch dan standar tingkat layanan yang akan memenuhi kebutuhan investor. Kami mendasarkan pekerjaan kami pada transparansi, kejujuran dan profesionalisme. Tim profesional berpendidikan dan berpengalaman kami yang berdedikasi terus berupaya mengembangkan dan meningkatkan layanan FBS.